TUGU JOGJA – Layanan bus sekolah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali berjalan normal mulai Senin, 24 Agustus 2026.
Dinas Perhubungan Gunungkidul mengembalikan layanan penjemputan pelajar pada siang hari di seluruh jalur setelah sebelumnya sebagian besar rute hanya melayani perjalanan pagi akibat tekanan biaya operasional, terutama kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Normalisasi layanan tersebut mencakup seluruh rute bus sekolah yang sebelumnya terdampak penyesuaian.
Kebijakan ini memungkinkan pelajar kembali mendapatkan layanan transportasi untuk perjalanan berangkat dan pulang sekolah, sementara Dinas Perhubungan menyiapkan penjadwalan ulang petugas dan pengemudi serta menggunakan anggaran yang tersedia untuk mendukung operasional.
Penjadwalan Ulang Pengemudi Kembalikan Layanan Siang
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Gunungkidul, Sigit Wijayanto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan skema penjadwalan ulang petugas dan pengemudi.
Langkah tersebut memungkinkan seluruh armada kembali melayani kebutuhan pelajar pada pagi dan siang hari.
โMulai Senin 24 Agustus, kita re-scheduling petugas/driver untuk tugas penjemputan siang di semua jalur,โ kata Sigit.
Kenaikan Harga BBM Pangkas Layanan Bus Sekolah
Layanan bus sekolah Gunungkidul sebelumnya menghadapi kendala operasional setelah biaya bahan bakar mengalami kenaikan.
Kondisi itu membuat Dinas Perhubungan harus menyesuaikan penggunaan anggaran agar operasional armada tetap berjalan.
Sebelum terjadi penyesuaian, seluruh rute bus sekolah melayani dua perjalanan utama setiap hari. Armada mengangkut pelajar pada pagi hari ketika mereka berangkat ke sekolah dan kembali menjemput mereka pada siang hari setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
Namun, kenaikan harga BBM sejak Mei membuat kebutuhan operasional meningkat. Dinas Perhubungan kemudian meninjau kembali kemampuan anggaran yang tersedia untuk menjaga keberlangsungan layanan tersebut.
Dari tujuh rute bus sekolah yang beroperasi, hanya satu rute yang saat itu mampu menjalankan pelayanan pagi dan siang secara normal. Enam rute lainnya hanya menjalankan layanan pada pagi hari.
Penyesuaian tersebut tentu berdampak terhadap pola perjalanan pelajar, terutama mereka yang membutuhkan angkutan untuk perjalanan pulang sekolah.
Kondisi itu juga menempatkan keluarga sebagai salah satu pihak yang harus menyesuaikan kembali pola penjemputan anak.
Dinas Perhubungan memilih langkah tersebut untuk menjaga agar layanan bus sekolah tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran operasional.
Pemerintah daerah kemudian mengupayakan tambahan anggaran agar pelayanan dapat kembali memenuhi kebutuhan pelajar secara utuh.
Tambahan Anggaran Rp270 Juta Disiapkan
Upaya tersebut kini membuahkan hasil. Pemerintah daerah telah menyetujui usulan tambahan anggaran operasional bus sekolah.
Sigit mengatakan tambahan anggaran tersebut mencapai Rp270.030.000. Pemerintah akan menggunakan anggaran itu untuk mendukung kebutuhan operasional bus sekolah setelah APBD Perubahan mendapatkan pengesahan.
โSudah disetujui penambahannya, tinggal menunggu pengesahan dan kita optimalkan untuk pelayanan bus sekolah ini,โ ujarnya.
Meski demikian, Dinas Perhubungan tidak perlu menunggu APBD Perubahan untuk mengembalikan layanan penjemputan siang.
Dinas masih menggunakan anggaran yang tersedia dalam APBD murni untuk menjalankan normalisasi layanan mulai Senin.
โUntuk normalisasi pelayanan saat ini (pagi dan siang) kita masih gunakan APBD murni,โ jelas Sigit.
Pemerintah daerah selanjutnya akan menggunakan tambahan anggaran setelah APBD Perubahan disahkan. Anggaran tersebut akan memperkuat ruang fiskal untuk memenuhi kebutuhan operasional bus sekolah sepanjang periode anggaran berjalan.
Enam Rute Sempat Hanya Layani Penjemputan Pagi
Kebijakan normalisasi ini akan memberikan kembali layanan penjemputan siang kepada pelajar yang tersebar di sejumlah wilayah Gunungkidul.
Rute bus sekolah yang sebelumnya terdampak penyesuaian meliputi PonjongโWonosari, SemanuโWonosari, SokolimanโWonosari, TanjungsariโWonosari, GedangsariโWonosari, hingga NgliparโWonosari.
Ketujuh rute tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas pelajar dari berbagai wilayah menuju kawasan sekolah di Wonosari.
Dinas Perhubungan harus mempertimbangkan jarak tempuh dan kebutuhan bahan bakar dalam mengoperasikan setiap armada. Rerata satu bus menghabiskan sekitar 25 liter bahan bakar setiap hari.
Kebutuhan tersebut membuat perubahan harga BBM langsung memengaruhi biaya operasional. Semakin tinggi biaya bahan bakar, semakin besar pula anggaran yang harus disiapkan untuk mempertahankan frekuensi perjalanan bus sekolah.
Kondisi geografis Gunungkidul juga membuat keberadaan layanan angkutan pelajar memiliki arti penting. Jarak antarkawasan yang relatif jauh dan karakter wilayah yang tersebar membuat akses transportasi menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan kemudahan pelajar menuju sekolah.
Karena itu, normalisasi layanan tidak sekadar mengembalikan jadwal perjalanan bus. Kebijakan tersebut juga mengembalikan pilihan transportasi bagi pelajar ketika mereka selesai mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Penjadwalan Pengemudi Diubah untuk Optimalkan Layanan
Dinas Perhubungan tidak hanya mengandalkan tambahan anggaran untuk mengembalikan pelayanan. Mereka juga melakukan penataan internal melalui penjadwalan ulang petugas dan pengemudi.
Sigit memastikan penjadwalan ulang tersebut mulai berlaku pada Senin, 24 Agustus 2026. Petugas dan pengemudi akan kembali menjalankan tugas penjemputan siang pada seluruh jalur.
Langkah itu menjadi bagian dari strategi Dinas Perhubungan untuk mengoptimalkan armada yang tersedia. Dengan pengaturan personel yang lebih tepat, pemerintah daerah dapat menjaga layanan pagi sekaligus mengembalikan layanan siang tanpa mengabaikan kebutuhan operasional lainnya.
Normalisasi juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah tetap berupaya mempertahankan layanan transportasi publik bagi pelajar meskipun menghadapi peningkatan biaya operasional.
Bus Sekolah Kembali Jadi Andalan Pelajar
Kembalinya layanan pagi dan siang memberikan manfaat langsung bagi pelajar yang menggunakan bus sekolah.
Mereka tidak lagi hanya mendapatkan fasilitas transportasi untuk perjalanan berangkat, tetapi juga memperoleh kembali layanan ketika pulang sekolah.
Bagi keluarga, layanan tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan untuk menjemput anak secara langsung.
Pemerintah berharap keberadaan bus sekolah dapat membantu menciptakan perjalanan pelajar yang lebih tertata sekaligus mendukung akses pendidikan di berbagai wilayah Gunungkidul.
Dinas Perhubungan akan terus mengoptimalkan pelayanan dengan dukungan anggaran yang tersedia. Tambahan anggaran sebesar Rp270.030.000 diharapkan semakin memperkuat operasional setelah APBD Perubahan resmi disahkan.
Normalisasi mulai Senin menjadi langkah awal untuk mengembalikan pola layanan seperti sebelum penyesuaian akibat kenaikan harga BBM.
Dengan penjemputan pagi dan siang kembali berjalan di seluruh jalur, bus sekolah Gunungkidul kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai angkutan pelajar yang membantu mobilitas siswa dari dan menuju sekolah.
Bagi para pelajar yang selama beberapa bulan harus mencari alternatif transportasi saat pulang sekolah, kembalinya layanan siang menjadi kabar yang paling ditunggu.
Mulai Senin, bus sekolah kembali menjemput mereka di jalur masing-masing dan membawa mereka pulang setelah menyelesaikan aktivitas belajar. (ef linangkung)





