TUGU JOGJA – Kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran lahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama di kawasan hutan dan perkebunan yang dipenuhi material kering.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti tumpukan daun kering di bawah tegakan pohon serta kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan sebagai kondisi yang dapat memicu kebakaran.
Sultan menyampaikan hal tersebut seusai memimpin Apel Akbar Hari Pramuka ke-65 di Gunungkidul. Menurutnya, sebagian kawasan hutan dan perkebunan di DIY merupakan lahan milik masyarakat, sementara vegetasi di bawah tegakan pohon, terutama tanaman jabon, membuat daun kering mudah menumpuk dan meningkatkan kerawanan kebakaran selama kemarau yang berlangsung panjang.
Kemarau Panjang Perbesar Risiko Kebakaran Lahan di DIY
Sultan melihat persoalan kebakaran lahan tidak bisa dilepaskan dari kondisi kekeringan yang terjadi selama musim kemarau. Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin kering pula vegetasi yang berada di permukaan tanah.
Ia meminta masyarakat memperhatikan kondisi kebun dan hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Masyarakat perlu memahami bahwa daun-daun yang berguguran dan menumpuk di bawah pohon tidak sekadar menjadi sampah alami, tetapi juga dapat menjadi bahan yang mempercepat penyebaran api.
โIya, masalahnya di kekeringan. Coba dilihat di kebun yang jabon itu, daun keringnya banyak di bawahnya,โ ujar Sultan.
Kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya ketika suhu udara meningkat dan angin ikut membawa material kering. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menjalar apabila masyarakat tidak segera mengendalikan sumber api.
Karena itu, Sultan mendorong masyarakat melakukan langkah sederhana untuk mengurangi potensi kebakaran. Salah satunya dengan membersihkan daun-daun kering yang menumpuk di sekitar kebun atau kawasan yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
โKalau bisa dibersihkan karena risikonya jadi lebih gede,โ katanya.
Langkah tersebut terlihat sederhana. Namun, dalam kondisi kemarau panjang, pembersihan material kering dapat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan kebakaran.
Sultan Minta Kesadaran Masyarakat Ditingkatkan
Sultan menilai pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman kebakaran lahan. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan perkebunan maupun hutan memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api.
Kesadaran itu dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Masyarakat perlu memastikan tidak ada sumber api yang tertinggal setelah beraktivitas di kebun.
Mereka juga perlu menghindari tindakan yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan.
Selain itu, masyarakat dapat membersihkan material mudah terbakar yang menumpuk di permukaan tanah. Daun kering, ranting, dan material vegetasi lainnya perlu dikelola agar tidak membentuk lapisan bahan bakar yang mudah menyulut api. Sultan menegaskan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi situasi tersebut.
โYa, kesadaran masyarakat saja yang perlu ditumbuhkembangkan,โ ujar Sultan.
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan kebakaran lahan membutuhkan keterlibatan langsung masyarakat.
Pemerintah dapat melakukan pemantauan dan penanganan ketika kebakaran terjadi, tetapi masyarakat memiliki posisi paling dekat dengan sumber risiko.
Gunungkidul Menghadapi Ancaman Kebakaran Saat Musim Kering
Gunungkidul menjadi salah satu wilayah DIY yang memiliki kawasan hutan dan lahan cukup luas. Aktivitas masyarakat di kawasan perkebunan dan lahan kering membuat kewaspadaan terhadap kebakaran perlu terus ditingkatkan, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Kondisi vegetasi yang mengering dapat meningkatkan risiko munculnya api. Ketika hujan tidak kunjung turun, kandungan air dalam daun, rumput, ranting, dan material organik di permukaan tanah terus berkurang.
Dalam kondisi seperti itu, satu sumber api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran lahan. Angin juga dapat mempercepat pergerakan api dan menyulitkan proses pemadaman.
Karena itu, masyarakat perlu mengubah pola kewaspadaan selama musim kemarau. Jika pada musim hujan daun yang jatuh ke tanah relatif cepat membusuk atau kembali mendapat kelembapan, kondisi berbeda terjadi saat kemarau panjang.
Daun kering justru menumpuk dan menjadi material yang mudah terbakar. Persoalan tersebut semakin kompleks ketika masyarakat tidak membersihkan material kering di sekitar lahan mereka.
Sultan pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu kebakaran terjadi sebelum melakukan tindakan pencegahan.
Membersihkan daun kering dan menghindari aktivitas yang dapat memunculkan api menjadi langkah awal yang bisa dilakukan secara mandiri.
Kebakaran Lahan Bukan Sekadar Persoalan Api
Kebakaran lahan sering kali terlihat sebagai persoalan yang muncul ketika api mulai membesar. Padahal, prosesnya dapat berlangsung sejak material kering menumpuk di permukaan tanah dan masyarakat mengabaikan sumber-sumber api kecil di sekitarnya.
Api yang muncul di lahan kering juga dapat menimbulkan persoalan lebih luas. Asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat, sementara petugas harus mengerahkan sumber daya untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas.
Karena itu, pencegahan menjadi pilihan yang lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
Pesan Sultan juga menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam rantai pencegahan tersebut. Pemerintah dapat memberikan edukasi dan melakukan penanganan, tetapi masyarakat tetap menjadi pihak yang paling menentukan dalam menjaga lahan masing-masing.
Terlebih, sebagian kawasan hutan dan perkebunan di DIY merupakan lahan yang dikelola masyarakat. Pemilik dan pengelola lahan memiliki kesempatan paling besar untuk mengenali kondisi lahannya sebelum situasi berkembang menjadi kebakaran.
Kesadaran Menjadi Benteng Pertama
Kemarau panjang membuat kondisi lahan di DIY semakin kering. Tumpukan daun yang sebelumnya terlihat sebagai bagian biasa dari ekosistem perkebunan dapat berubah menjadi ancaman ketika masyarakat tidak mengelolanya dengan baik.
Sultan melihat kondisi tersebut sebagai persoalan yang membutuhkan kesadaran bersama. Masyarakat perlu memahami bahwa pencegahan kebakaran tidak selalu membutuhkan langkah rumit.
Membersihkan daun kering, menjaga lingkungan sekitar kebun, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan menjadi tindakan sederhana yang dapat mengurangi risiko kebakaran.
Di tengah musim kemarau yang panjang, kewaspadaan juga perlu menjadi kebiasaan. Masyarakat tidak boleh menganggap remeh kondisi lahan yang semakin kering karena api dapat muncul dari sumber yang sangat kecil.
Bagi Sultan, kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menghadapi meningkatnya risiko kebakaran lahan di DIY.
Musim hujan mungkin pada akhirnya akan datang. Namun, selama panas masih menyengat dan hujan belum turun dalam waktu lama, daun-daun kering yang menumpuk tetap menyimpan potensi bahaya.
Karena itu, sebelum api membesar dan menjalar ke mana-mana, masyarakat perlu lebih dulu mengurangi bahan bakarnya.
Membersihkan lahan dan menjaga agar tidak ada sumber api yang tercecer menjadi langkah sederhana untuk mencegah kebakaran lahan di DIY. (ef linangkung)





