TUGU JOGJA — Gunung Merapi masih berada pada status aktivitas Level III atau Siaga karena aktivitas erupsi efusif masih berlangsung. Dalam periode pengamatan 14–20 Agustus 2026, BPPTKG mencatat suplai magma masih berlangsung, disertai pertumbuhan kubah lava, guguran lava, peningkatan kegempaan, dan deformasi tubuh gunung.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyampaikan bahwa pemantauan visual dan instrumental menunjukkan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran (APG) di wilayah yang masuk daerah potensi bahaya.
Merapi juga terus menunjukkan perubahan pada kubah lavanya. Hasil survei drone pada 15 Agustus 2026 memperlihatkan volume Kubah Barat Daya bertambah sekitar 29.300 meter kubik. Penambahan itu membuat volume Kubah Barat Daya mencapai 4.068.900 meter kubik.
Sementara itu, volume Kubah Tengah juga mengalami pertambahan. BPPTKG mencatat penambahan sekitar 1.000 meter kubik sehingga volumenya mencapai 2.370.400 meter kubik.
“Angka tersebut menggambarkan bahwa aktivitas pertumbuhan kubah lava masih berjalan. Meski demikian, perubahan volume kubah bukan satu-satunya parameter yang menentukan perkembangan aktivitas Merapi. BPPTKG juga terus membaca perubahan melalui pengamatan visual, kegempaan, deformasi, serta kondisi hujan dan aliran sungai,”terangnya.
Asap Merapi Muncul hingga 450 Meter
Sepanjang pekan pengamatan, cuaca di sekitar Gunung Merapi berubah mengikuti waktu. Pagi dan malam umumnya menghadirkan cuaca cerah, sedangkan kabut lebih sering muncul pada siang hingga sore hari.
Di tengah kondisi tersebut, pengamatan visual tetap menemukan asap putih dari puncak Merapi. Asap itu memiliki ketebalan tipis hingga sedang dengan tekanan lemah. Ketinggian asap bervariasi, mulai 10 meter hingga mencapai 450 meter dari puncak.
Pengamatan visual juga mencatat aktivitas guguran lava yang mengarah ke sejumlah sungai di lereng Merapi. BPPTKG mencatat satu kali guguran lava menuju hulu Kali Boyong dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter. Aktivitas lebih banyak terjadi ke arah hulu Kali Krasak dengan 13 kali guguran dan jarak maksimum 2.000 meter.
Guguran lava juga bergerak menuju hulu Kali Bebeng sebanyak satu kali dengan jarak maksimum 1.800 meter. Aktivitas paling banyak tercatat menuju hulu Kali Sat/Putih. BPPTKG merekam 38 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Rangkaian guguran tersebut menunjukkan bahwa material dari tubuh Gunung Merapi masih bergerak mengikuti gravitasi menuju lembah-lembah sungai yang berhulu di kawasan puncak.
Kondisi itu menjadi penting karena material vulkanik yang berada di lereng dapat kembali bergerak lebih jauh ketika terjadi perubahan aktivitas atau ketika hujan turun dengan intensitas tertentu.
Suhu Kubah Lava Mencapai 243 Derajat Celsius
Untuk melihat perkembangan kubah lava secara lebih detail, BPPTKG melakukan survei drone pada 15 Agustus 2026. Tim kemudian menganalisis foto udara dan foto termal hasil survei tersebut.
Analisis foto udara menunjukkan pertumbuhan volume pada dua kubah lava. Kubah Barat Daya mencatat pertambahan paling besar, yakni sekitar 29.300 meter kubik. Setelah pertambahan itu, volume Kubah Barat Daya mencapai 4,068 juta meter kubik. Kubah Tengah juga bertambah sekitar 1.000 meter kubik dan mencapai volume 2,370 juta meter kubik.
Sementara itu, analisis foto termal menunjukkan suhu kedua kubah mencapai 243 derajat Celsius. Suhu tersebut relatif tetap dibandingkan hasil pengukuran sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa kedua kubah lava masih mempertahankan kondisi termalnya. BPPTKG menggunakan perkembangan volume dan kondisi termal kubah sebagai bagian dari rangkaian parameter untuk membaca dinamika aktivitas Gunung Merapi.
Kegempaan Merapi Mengalami Peningkatan
Aktivitas Gunung Merapi tidak hanya terlihat dari permukaan. Instrumen seismik yang terpasang di kawasan Merapi juga merekam berbagai jenis gempa selama periode 14–20 Agustus 2026. BPPTKG mencatat 54 kali gempa Vulkanik Dangkal atau VTB. Selain itu, jaringan pemantauan merekam 529 kali gempa Fase Banyak atau MP, 634 kali gempa Guguran atau RF, dan 25 kali gempa Tektonik atau TT.
Secara keseluruhan, intensitas kegempaan pada pekan tersebut lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya. Peningkatan kegempaan menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan aktivitas Gunung Merapi. Para ahli menggunakan perubahan pola dan jumlah gempa untuk melihat dinamika yang terjadi di dalam tubuh gunung api.
Data tersebut kemudian BPPTKG padukan dengan hasil pengamatan visual, perkembangan kubah lava, dan pengukuran deformasi. Dengan cara itu, pemantauan tidak hanya bergantung pada satu indikator. Setiap perubahan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi Merapi.
Tubuh Merapi Masih Mengalami Deformasi
Selain kegempaan, BPPTKG juga memantau deformasi atau perubahan bentuk tubuh Gunung Merapi menggunakan instrumen Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS). Pada periode pengamatan tersebut, jarak tunjam EDM di sektor barat laut dari titik tetap BAB0 menuju reflektor RB2 berada pada kisaran 3.839,832 meter hingga 3.839,863 meter.
Sementara itu, data baseline GPS Labuhan–Jrakah berada pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter. Pengukuran EDM menunjukkan pemendekan jarak tunjam sekitar 0,6 sentimeter per hari. Data tersebut menjadi salah satu parameter yang BPPTKG gunakan untuk memantau perubahan bentuk tubuh Gunung Merapi.
Perubahan deformasi dapat memberikan informasi mengenai proses yang berlangsung di dalam gunung api. Karena itu, BPPTKG terus memantau pergerakannya secara berkala untuk mendeteksi perubahan aktivitas sedini mungkin.
Hujan Belum Memicu Lahar Baru
Faktor cuaca juga mendapat perhatian dalam pemantauan Gunung Merapi. Hujan masih turun di sejumlah wilayah sekitar gunung selama periode 14–20 Agustus 2026. Intensitas hujan tertinggi terjadi pada 17 Agustus 2026. Pos Jrakah mencatat curah hujan sebesar 3,36 milimeter per jam selama 15 menit.
Meski hujan turun, BPPTKG tidak menerima laporan mengenai penambahan aliran maupun lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Namun, kondisi tersebut tidak membuat potensi bahaya lahar hilang. Material vulkanik yang tersimpan di lereng dan kawasan aliran sungai tetap dapat terbawa air ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Karena itu, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar sungai berhulu di Gunung Merapi tetap perlu memperhatikan perkembangan cuaca, terutama ketika hujan turun di kawasan puncak.
Ancaman Awan Panas Masih Mengintai
BPPTKG menyimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan masih menunjukkan karakter erupsi efusif. Atas kondisi tersebut, status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi itu dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Potensi bahaya utama saat ini mencakup guguran lava dan awan panas pada sejumlah sektor lereng Gunung Merapi.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya mencakup Sungai Boyong dengan jarak maksimum 5 kilometer. Ancaman juga mencakup Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng dengan jarak maksimum hingga 7 kilometer.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro dengan jarak maksimum 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. BPPTKG juga mengingatkan potensi lontaran material vulkanik apabila Gunung Merapi mengalami letusan eksplosif. Dalam kondisi tersebut, material dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Batas-batas tersebut menjadi penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah karena menentukan kawasan yang harus mendapatkan perhatian dalam upaya mitigasi.
Empat Kabupaten Harus Memperkuat Mitigasi
Aktivitas Merapi yang masih tinggi membuat pemerintah daerah perlu terus menyiapkan langkah mitigasi. BPPTKG merekomendasikan Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman erupsi.
Pemerintah daerah perlu memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus memastikan sarana dan prasarana evakuasi siap digunakan ketika kondisi darurat terjadi. Kesiapsiagaan tidak hanya menyangkut jalur evakuasi. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat memahami kawasan rawan bencana, mengenali potensi ancaman, serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika aktivitas Merapi berubah.
Masyarakat juga harus mematuhi batas-batas daerah potensi bahaya. BPPTKG meminta masyarakat tidak melakukan kegiatan apa pun di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya. Peringatan tersebut terutama berlaku bagi warga, wisatawan, penambang, pendaki, petani, dan siapa pun yang memiliki aktivitas di lereng maupun lembah sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Hujan Bisa Membawa Ancaman Tambahan
Masyarakat juga perlu mewaspadai awan panas guguran dan lahar ketika hujan turun di sekitar Gunung Merapi. Hujan dapat membawa material vulkanik yang tersimpan di lereng menuju alur-alur sungai. Ancaman dapat meningkat ketika hujan mengguyur kawasan puncak atau lereng dengan intensitas tinggi.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya memantau kondisi puncak Merapi. Mereka juga perlu memperhatikan kondisi sungai dan cuaca di sekitar kawasan gunung. Selain ancaman guguran lava, awan panas, dan lahar, masyarakat perlu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika erupsi menghasilkan material dalam jumlah besar.
Abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat, kebersihan lingkungan, serta berbagai kegiatan di luar ruangan. Masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga pemantauan gunung api ketika kondisi tersebut terjadi.
Merapi Terus Bergerak, Kewaspadaan Harus Tetap Terjaga
Gunung Merapi pada pekan 14–20 Agustus 2026 memperlihatkan sejumlah indikator yang menunjukkan aktivitas vulkanik masih tinggi. Kubah Barat Daya terus bertambah volumenya. Kubah Tengah juga mengalami pertumbuhan meski dalam jumlah lebih kecil.
Pada saat yang sama, jaringan seismik merekam peningkatan intensitas kegempaan dibandingkan pekan sebelumnya. Instrumen deformasi juga mencatat pemendekan jarak tunjam sekitar 0,6 sentimeter per hari. Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa Merapi belum memasuki fase tenang. Aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dan suplai magma masih terjadi di dalam tubuh gunung.
Agus Budi Santoso dan jajaran BPPTKG terus memantau perkembangan tersebut melalui berbagai instrumen dan pengamatan lapangan. Pemantauan menjadi kunci untuk membaca perubahan aktivitas Merapi sekaligus memberikan peringatan ketika terjadi perkembangan yang signifikan.
Untuk saat ini, pesan BPPTKG kepada masyarakat tetap jelas: jangan memasuki daerah potensi bahaya, tingkatkan kewaspadaan terhadap awan panas guguran dan lahar, serta antisipasi dampak abu vulkanik.
Gunung Merapi memang tidak selalu memperlihatkan perubahan besar dalam satu hari. Namun, pertumbuhan kubah, guguran lava, gempa, dan deformasi terus memberikan tanda bahwa aktivitas di dalam tubuh gunung masih bergerak.
Karena itu, kewaspadaan tidak boleh menunggu erupsi membesar. Selama status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat dan pemerintah harus menjaga kesiapsiagaan serta mengikuti setiap perkembangan resmi dari BPPTKG.
Jika aktivitas Gunung Merapi mengalami perubahan signifikan, BPPTKG akan segera melakukan peninjauan kembali terhadap tingkat aktivitasnya. Untuk sementara, Merapi tetap meminta satu hal dari masyarakat di sekitarnya: menjaga jarak dari kawasan berbahaya dan tidak lengah menghadapi setiap perubahan aktivitasnya.(ef linangkung)





