TUGU JOGJAย – Fun run dan lomba lari kota semakin sering menjadi bagian dari agenda pariwisata Yogyakarta.
Acara semacam ini mendorong gaya hidup aktif, menarik peserta dari luar daerah, sekaligus membuka peluang bagi sektor kuliner, penginapan, transportasi, dan usaha lokal.
Namun, ketika sebagian ruas jalan ditutup untuk lomba, warga yang tidak mengikuti acara tetap harus menjalani aktivitas hariannya.
Akses jalan menuju tempat kerja, pasar, rumah sakit, atau lokasi usaha bisa terganggu. Dan bagi pedagang kecil di sekitar rute, perubahan arus orang dan kendaraan juga berpotensi memengaruhi pendapatan.
Di sinilah muncul persoalan tata kelola ruang publik. Jalan kota bukan hanya lintasan lomba, tetapi juga ruang yang digunakan warga untuk bergerak, bekerja, berdagang, dan mengakses layanan dasar.
Penyelenggaraan lomba lari membutuhkan pengaturan rute dan lalu lintas untuk menjaga keselamatan peserta.
Pemerintah Kota Yogyakarta, misalnya, mendukung event lari melalui fasilitasi perizinan, pengamanan, rekayasa lalu lintas bersama kepolisian, serta promosi melalui kanal resmi Dinas Pariwisata.
Dan dalam event lari itu, enutupan jalan menjadi bagian penting dari pengamanan ketika ribuan pelari menggunakan ruas yang biasanya dilalui kendaraan bermotor.
Tanpa pengaturan, pertemuan antara peserta dan lalu lintas dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Namun, kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi bagi pengguna jalan lain.
Warga mungkin harus memutar melalui jalur alternatif, menunda perjalanan, atau menghadapi akses terbatas menuju lokasi tertentu. Kemacetan bahkan dapat berpindah ke jalan lain yang kapasitasnya lebih kecil.
Adapun dampak penutupan jalan tidak hanya berkaitan dengan waktu perjalanan. Bagi pedagang kaki lima, pemilik warung, pengayuh becak, dan kusir andong, pergerakan orang dan kendaraan turut menentukan aktivitas ekonomi harian.
Ketika akses menuju kawasan usaha ditutup atau pengunjung diarahkan ke jalur lain, jumlah pembeli berpotensi berkurang.
Pedagang yang mengandalkan transaksi langsung di sekitar rute dapat kehilangan sebagian kesempatan berjualan selama acara berlangsung.
Meski begitu, dampak event lari tidak selalu negatif bagi semua usaha. Peserta dari luar kota dapat membeli makanan, menginap, menggunakan transportasi lokal, atau berbelanja oleh-oleh.
Kegiatan olahraga juga berpotensi memperluas daya tarik wisata jika peserta melanjutkan kunjungan ke destinasi lain.
Dengan demikian, dampak ekonomi event lari bergantung pada bagaimana arus pengunjung dan akses usaha dikelola. Keramaian acara belum tentu otomatis menjadi pendapatan bagi pedagang yang berada di sekitar rute.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tugujogja.id, pemerintah daerah sering kali memosisikan event lari sebagai bagian dari pengembangan sport tourism.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY diketahui juga sempat mengungkap bahwa kegiatan lari menjadi strategi untuk mengembangkan pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tujuan seperti ini dapat berjalan beriringan dengan kepentingan warga, tetapi keberhasilan acara tak cukup diukur dari jumlah peserta, sponsor, atau liputan media.
Penyelenggara juga perlu memperhitungkan gangguan mobilitas dan dampaknya terhadap usaha yang tidak terlibat langsung.
Manfaat ekonomi berisiko terkonsentrasi pada penyelenggara, sponsor, serta pelaku usaha yang mudah dijangkau peserta.
Sementara itu, pedagang kecil di sekitar rute dapat menghadapi penurunan akses jika tidak mendapat informasi atau kesempatan untuk beradaptasi.
Karena itu, warga dan pelaku usaha lokal perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan. Informasi mengenai rute, waktu penutupan, akses masuk, dan perubahan arus lalu lintas perlu disampaikan secara jelas dan lebih awal.
Pengelolaan Rute Menentukan Dampak Acara
Salah satu langkah yang dapat mengurangi gangguan adalah penerapan buka-tutup jalan secara dinamis.
Daripada menutup seluruh rute selama berjam-jam, ruas tertentu dapat dibuka kembali setelah peserta melewatinya, selama kondisi keselamatan memungkinkan.
Sosialisasi rute dan jalur alternatif juga penting agar warga dapat merencanakan perjalanan.
Pengaturan akses darurat perlu diperhatikan, sementara pedagang yang terdampak dapat diberi fasilitasi agar tetap memiliki kesempatan berusaha selama acara.
Pemilihan waktu pelaksanaan, termasuk pagi hari pada akhir pekan, dapat membantu mengurangi benturan dengan sebagian aktivitas kerja. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada rute, durasi penutupan, serta kepadatan kawasan.
Dengan demikian, fun run bukan persoalan jika dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan banyak pihak. Acara tersebut dapat menjadi ruang rekreasi, promosi kesehatan, dan daya tarik wisata.
Tantangannya adalah memastikan keberhasilan penyelenggaraan tidak dibayar dengan beban yang tidak proporsional bagi warga.
Kota yang ramah terhadap acara besar seharusnya tetap ramah bagi masyarakat yang perlu bekerja, berdagang, dan bergerak pada hari yang sama.***





