Kelihatannya Bergengsi dan Estetik, Ini Realita Kerja Jadi Barista

Bagikan :
Ilustrais | Realitas kerja jadi barista di Yogyakarta (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJAย – Bekerja di balik meja bar dengan mesin espresso, aroma biji kopi, dan interior kafe yang estetik sering terlihat menyenangkan.

Profesi barista bahkan kerap diasosiasikan dengan gaya hidup urban, kreativitas, dan lingkungan kerja yang lebih santai dibandingkan pekerjaan kantoran.

Namun, gambaran tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas pekerjaan sehari-hari. Di balik itu semua, barista harus menghadapi antrean pesanan, tuntutan pelayanan, pekerjaan fisik, hingga ketidakpastian hubungan kerja.

Di Yogyakarta, pertumbuhan kedai kopi seiring budaya nongkrong, pariwisata, dan kebutuhan ruang kerja fleksibel membuat profesi ini semakin terlihat.

Kafe menjadi tempat berkumpul mahasiswa, pekerja lepas, wisatawan, dan komunitas kreatif. Namun, perkembangan industri tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi orang-orang yang bekerja di balik meja penyajian.

Adapun pekerjaan barista sering kali dipahami sebatas meracik minuman dan membuat pola latte art. Padahal, tanggung jawabnya mencakup banyak aktivitas yang harus dilakukan dalam waktu bersamaan.

Seorang barista perlu menerima pesanan, mengoperasikan mesin espresso, menggiling biji kopi, meracik minuman, melayani pelanggan, menjaga kebersihan peralatan, hingga memastikan pesanan selesai tepat waktu.

Beban pekerjaan biasanya semakin terasa ketika kafe memasuki jam sibuk. Pesanan datang berturut-turut, pelanggan menunggu, sementara standar rasa dan pelayanan tetap harus dijaga.

Berdasarkan suatau penelitian soal barista di Yogyakarta menemukan adanya tekanan kerja ketika jam operasional ramai, tuntutan multitasking, serta standar pelayanan yang tinggi.

Kajian tersebut juga mencatat bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dipengaruhi oleh kemampuan mengatur waktu, dukungan rekan kerja, serta kebijakan perusahaan.

Ada pula beban fisik yang jarang terlihat pelanggan. Barista dapat berdiri selama berjam-jam, mengangkat galon air, memindahkan karung biji kopi, membersihkan mesin espresso, dan menyelesaikan pekerjaan penutupan setelah kafe berhenti menerima pesanan.

Baca juga  Sunmori, Ruang Publik, dan Dinamika Konvoi Motor di Kota Yogyakarta

Dengan demikian, suasana kerja yang terlihat santai dari meja pelanggan belum tentu sama dengan pengalaman orang yang mengoperasikan dapur dan area bar.

Dan salah satu hal yang membuat profesi barista menarik adalah kesempatan bekerja di lingkungan yang dekat dengan kopi dan interaksi sosial.

Sebagian pekerja menikmati proses belajar tentang karakter biji kopi, teknik penyeduhan, hingga kemampuan menciptakan minuman baru.

Namun, kecintaan terhadap pekerjaan tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi ketenagakerjaan.

Mengacu pada kajian Universitas Gadjah Mada mengenai etos kerja barista di kedai kopi spesialti Yogyakarta, diketahui adanya persoalan upah dan tunjangan rendah, jaminan kerja terbatas, serta waktu istirahat yang sedikit.

Penelitian tersebut menggunakan konsep pekerja precariat untuk menjelaskan kondisi pekerja yang menghadapi ketidakpastian dan keterbatasan perlindungan dalam hubungan kerja.

Temuan lain dari penelitian terhadap barista di tiga kedai kopi Yogyakarta juga mencatat persoalan upah rendah, jam kerja panjang, tekanan fisik dan mental, serta tuntutan untuk selalu bersikap ramah kepada pelanggan.

Tuntutan tersebut memiliki dimensi tersendiri. Barista tidak hanya menjual minuman, tetapi juga memberikan pengalaman pelayanan. Mereka diharapkan tetap ramah meskipun sedang lelah atau menghadapi persoalan pribadi.

Kondisi ini berkaitan dengan konsep emotional labor, yaitu tuntutan pekerja untuk mengelola ekspresi dan emosi sesuai standar pelayanan yang diharapkan perusahaan.

Meski begitu, kondisi kerja tidak bisa disamaratakan untuk seluruh kedai kopi. Skala usaha, sistem manajemen, bentuk kontrak, dan kebijakan perusahaan dapat menghasilkan pengalaman kerja yang berbeda.

Baca juga  Makna dan Asal Usul Filosofi Sluman Slumun Slamet, Sejak Kapan Mulai Ada?

Sementara itu, diketahui bahwa UMK Kota Yogyakarta 2026 yakni sebesar Rp2.827.593 dan berlaku mulai 1 Januari 2026 bagi pekerja dengan masa kerja kurang dari satu tahun sesuai ketentuan pengupahan.

Namun, angka tersebut tak otomatis menggambarkan upah seluruh barista di Yogyakarta. Regulasi ketenagakerjaan juga mengatur ketentuan khusus bagi usaha mikro dan kecil, sehingga penerapan pengupahan perlu mempertimbangkan kategori usaha dan ketentuan yang berlaku.

Perbedaan skala bisnis juga dapat memengaruhi fasilitas yang diterima pekerja. Kafe dengan jaringan lebih besar mungkin memiliki sistem pengelolaan tenaga kerja yang berbeda dibandingkan kedai independen dengan jumlah karyawan terbatas.

Karena itu, menilai kesejahteraan barista tidak cukup hanya dengan melihat nominal gaji.

Jam kerja, pembayaran lembur, waktu istirahat, jaminan sosial, kepastian kontrak, dan beban pekerjaan juga perlu diperhitungkan.

Banyak orang pun bertahan menjadi barista karena menyukai kopi, menikmati interaksi dengan pelanggan, atau merasa pekerjaannya memberikan ruang untuk berkembang. Kepuasan tersebut merupakan bagian penting dari pengalaman bekerja.

Kajian UGM mengenai etos kerja barista menemukan bahwa gairah terhadap pekerjaan dapat menjadi salah satu sumber motivasi.

Pekerja memperoleh kepuasan immaterial dari keterampilan, lingkungan sosial, dan aktivitas yang mereka jalani.

Namun, gairah tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan kompensasi yang layak.

Dan dalam sosiologi kerja, kondisi ketika kecintaan seseorang terhadap pekerjaan dimanfaatkan sebagai nilai tambah ekonomi dapat dibahas melalui konsep komodifikasi passion.

Pekerja bersedia memberikan energi dan komitmen karena menyukai bidangnya, tetapi hal tersebut berisiko dimanfaatkan untuk memaklumi kondisi kerja yang kurang ideal.

Baca juga  Mengenal Asal-usul Upacara Numplak Wajik Keraton Jogja: Tradisi Pembuka Garebeg yang Sarat Makna Syukur

Kecintaan terhadap kopi seharusnya menjadi alasan seseorang mengembangkan keterampilan, bukan pembenaran untuk menerima jam kerja berlebihan atau mengabaikan hak ketenagakerjaan.

Jadi, secangkir kopi di kafe dapat dijual dengan harga Rp30.000 hingga Rp50.000 atau lebih. Bagi konsumen, harga tersebut mungkin terlihat besar jika dibandingkan dengan biaya bahan baku yang digunakan.

Namun, harga jual tidak bisa langsung dianggap sebagai keuntungan bersih pemilik usaha. Kafe harus membayar biji kopi, susu, sirup, kemasan, listrik, air, sewa tempat, perawatan mesin, pajak, hingga biaya tenaga kerja.

Usaha juga menghadapi risiko persaingan, perubahan tren, kenaikan harga bahan baku, dan fluktuasi jumlah pengunjung

Karena itu, tak tepat rasanya jika menganggap seluruh selisih harga jual dan biaya bahan baku sebagai laba yang dapat dibagikan.

Meski begitu, struktur biaya usaha tidak menghilangkan pertanyaan mengenai pembagian nilai ekonomi. Ketika industri kopi terus berkembang, kesejahteraan pekerja yang menjalankan operasional harian tetap perlu menjadi perhatian.

Perbaikan dapat dimulai melalui transparansi jam kerja, pembayaran lembur, pembagian tugas yang wajar, waktu istirahat, pelatihan keterampilan, dan pemenuhan jaminan sosial sesuai ketentuan.

Konsumen juga dapat ikut membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dengan menghargai barista sebagai pekerja profesional, bukan sekadar bagian dari estetika kafe.

Dengan demikian, keberhasilan industri kopi tidak cukup diukur dari banyaknya kedai baru, desain interior menarik, atau harga minuman yang semakin tinggi.

Kualitas pekerjaan dan kesejahteraan orang-orang di balik meja bar juga menjadi bagian penting dari pertumbuhan industri tersebut.***

Berita Terbaru

77d75084-be26-426f-a513-c8fa4e866eeb
Sri Sultan HB X Tegaskan Pembangunan di Indonesia Tak Boleh Abaikan Risiko Geologi, Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas
nadine-e-DRzYMtae-vA-unsplash
Perawat di Sewon Bantul Diduga Jadi Korban Pelecehan Pasien, Polisi Periksa Saksi
Kantor Imigrasi Gunungkidul
Kantor Imigrasi Gunungkidul Ditargetkan Mulai Beroperasi Januari 2027, Gedung Disiapkan di Semanu
leo_visions-eyJiMHku7mw-unsplash
Kala Jogja Ramai Event Lari, Bagaimana Nasib Warga dan Pedagang?
Sisi Lain Kerja Jadi Barista di Jogja
Kelihatannya Bergengsi dan Estetik, Ini Realita Kerja Jadi Barista

Pilihan Editor

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

muhammad-arief-N2JI8dMKvto-unsplash

11 Event Jogja November 2026, Ada Festival Budaya, Konser Musik, hingga JAFF 21

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (2)

Jadwal KA Bandara YIA Terbaru: Rute, Harga Tiket, dan Tips Menggunakan Kereta Bandara di Yogyakarta

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

muhammad-arief-N2JI8dMKvto-unsplash

11 Event Jogja November 2026, Ada Festival Budaya, Konser Musik, hingga JAFF 21

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (2)

Jadwal KA Bandara YIA Terbaru: Rute, Harga Tiket, dan Tips Menggunakan Kereta Bandara di Yogyakarta