TUGU JOGJAย – Kenaikan harga cabai merah menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi Kota Yogyakarta pada Oktober 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah berkurangnya pasokan sejumlah komoditas pangan akibat pengaruh musim kemarau.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menyebut kelompok makanan dan minuman menjadi penyumbang utama kenaikan harga selama Oktober 2026. Cabai merah tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,1 persen.
Selain cabai merah, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan harga. Komoditas tersebut meliputi beras, cabai rawit, tomat, buncis, sawi putih, brokoli, labu siam, hingga mentimun.
โSelain cabai merah, ada beras, cabai rawit, tomat, buncis, sawi putih, brokoli, labu siam, dan mentimun. Intinya dari kelompok makanan atau volatile food yang menjadi pendorong terjadinya inflasi pada Oktober 2026,โ jelas Joko dalam keterangan tertulis, selasa (3/11/2026).
Menurut Joko, kondisi cuaca selama musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan komoditas pangan.
Penurunan pasokan ketika kebutuhan masyarakat relatif tetap memberikan tekanan terhadap harga di pasaran.
Ia menjelaskan, berkurangnya ketersediaan barang di tengah permintaan yang tidak mengalami penurunan dapat mendorong kenaikan harga.
โSecara hukum ekonomi, ketika supply-nya turun, demand tetap, itu pasti terjadi kenaikan harga,โ katanya.
Selain kelompok makanan dan minuman, sektor pendidikan turut memberikan kontribusi terhadap inflasi Kota Yogyakarta pada Oktober 2026.
BPS mencatat kelompok pendidikan memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian biaya kuliah di perguruan tinggi.
Meski terdapat tekanan dari sektor pangan dan pendidikan, perkembangan inflasi secara kumulatif masih berada dalam sasaran nasional.
Berdasarkan catatan BPS Kota Yogyakarta, inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) hingga Oktober 2026 mencapai 2,14 persen.
Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen, dengan toleransi 1 persen ke atas maupun ke bawah.
Joko memperkirakan inflasi sepanjang 2026 berpeluang tidak mencapai 3 persen. Namun, perkiraan tersebut bergantung pada kemampuan menjaga kenaikan harga selama November dan Desember agar tidak terlalu tinggi.
โKalau tahun lalu selama 12 bulan inflasi kita di atas 3 persen. Kalau dua bulan ke depan bisa bertahan tidak terlalu tinggi, maka secara kumulatif inflasi tahun 2026 ini bisa tidak mencapai 3 persen,โ ungkapnya.
Memasuki musim hujan, perbaikan produksi dan ketersediaan pangan diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan harga. Meski demikian, peningkatan pasokan tidak bisa langsung terjadi ketika hujan mulai turun.
Proses pemulihan masih bergantung pada tahapan produksi hingga distribusi komoditas pangan ke pasar. Karena itu, ketersediaan barang tetap menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas harga.
BPS Kota Yogyakarta juga mengingatkan adanya kecenderungan peningkatan inflasi menjelang akhir tahun.
Catatan selama dua tahun terakhir menunjukkan inflasi pada Desember 2024 mencapai 0,48 persen, kemudian meningkat menjadi 0,53 persen pada Desember 2025.
Peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi, terutama berkaitan dengan permintaan bahan pangan.
Joko menilai kecenderungan kenaikan inflasi pada penghujung tahun tetap dapat diantisipasi melalui pengalaman dan kebijakan pengendalian harga yang tepat.
โMemang trennya kecenderungannya di akhir tahun meningkat, tetapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Dengan pengalaman dan kebijakan yang tepat, kondisi tersebut masih bisa diantisipasi,โ tutur Joko.
Oleh karena itu, pengendalian harga selama November dan Desember menjadi perhatian untuk menjaga stabilitas inflasi Kota Yogyakarta.
Ketersediaan stok dan kelancaran distribusi bahan pangan perlu dijaga agar peningkatan permintaan masyarakat menjelang akhir tahun tidak memicu kenaikan harga yang lebih tinggi.
Joko berharap pengalaman menghadapi peningkatan kebutuhan pada akhir tahun sebelumnya dapat menjadi bekal pemerintah dalam menyusun langkah antisipasi.
Dengan demikian, stabilitas harga di Kota Yogyakarta diharapkan tetap terjaga hingga pergantian tahun. (Gal)





