TUGU JOGJA – Malam mulai turun di kawasan Keraton Yogyakarta, Rabu (19/8/2026), ketika dua gamelan pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, kembali ditabuh di Bangsal Pancaniti untuk mengawali prosesi Miyos Gangsa dalam rangkaian Sekaten menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun Be 1960 atau 2026.
Dentang pertama kedua gamelan pusaka tersebut menjadi penanda dimulainya Miyos Gangsa, prosesi budaya yang mengantarkan Guntur Madu dan Nagawilaga keluar dari keraton menuju kompleks Masjid Gedhe Kauman. Bagi masyarakat Yogyakarta, momen ini menjadi awal dari rangkaian tradisi yang mempertemukan warisan budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam yang telah mengakar kuat di Yogyakarta.
Gamelan Pusaka Keluar dari Keraton
Prosesi dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan menjadi salah satu agenda paling dinanti dalam kalender budaya Keraton Yogyakarta.
Rangkaian acara diawali dengan penabuhan kedua gamelan pusaka di Bangsal Pancaniti. Tak lama kemudian, putra dalem membagikan udhik-udhik kepada para abdi dalem dan masyarakat yang hadir.
Suasana berubah semakin khidmat ketika para abdi dalem mulai mengusung perangkat gamelan pusaka keluar dari lingkungan keraton.
Kanjeng Kiai Guntur Madu dikawal Bregada Prawiratama, sementara Kanjeng Kiai Nagawilaga berada dalam pengawalan Bregada Jagakarya. Prosesi juga melibatkan Prajurit Langenkusuma dan Suranata yang kembali turut serta dalam iring-iringan tahun ini.
Rute perjalanan melewati Regol Brojonolo, Siti Hinggil, Pagelaran, kemudian bergerak ke arah barat melalui Jalan Pangurakan menuju kompleks Masjid Gedhe Kauman.
Di sepanjang perjalanan, masyarakat berbaris menyaksikan kirab yang berlangsung perlahan namun penuh makna.
Miyos Gangsa 2026 Hadir dengan Nuansa Baru
Pelaksanaan Miyos Gangsa tahun ini menghadirkan beberapa perbedaan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Carik Kawedanan Kaprajuritan Keraton Yogyakarta, MJ Yuda Kawindra, menjelaskan bahwa waktu keberangkatan gamelan dibuat lebih awal dibanding biasanya.
โYang berbeda dan spesial, gamelan saat dibawa ke masjid kali ini dibunyikan. Sebelumnya hanya dibawa,โ ungkapnya.
Perubahan itu membuat suasana kirab terasa lebih hidup. Bunyi gamelan tidak lagi hanya terdengar setelah tiba di Masjid Gedhe, tetapi juga mengiringi perjalanan menuju Kauman.
Selain itu, masyarakat kini dapat menyaksikan prosesi dari area Kagungan Dalem Pagelaran yang dibuka untuk umum mulai pukul 19.30 WIB.
Warga yang hadir bahkan memperoleh lilin yang dinyalakan ketika gamelan sekati menuruni Siti Hinggil, menambah kesan sakral pada perjalanan dua pusaka keraton tersebut.
Mengapa Sekaten Selalu Dinanti?
Bagi banyak orang, Sekaten sering kali identik dengan pasar malam dan keramaian di Alun-Alun Utara.
Padahal, menurut Keraton Yogyakarta, inti dari Sekaten sesungguhnya berada pada tradisi keagamaan dan budaya yang diwariskan sejak masa Kesultanan Mataram.
Yuda Kawindra menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami makna Sekaten yang lebih luas daripada sekadar hiburan rakyat.
Tradisi ini berakar pada metode dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan budaya untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa.
Kata “Sekaten” sendiri diyakini berasal dari istilah syahadatain, yakni dua kalimat syahadat yang menjadi dasar keimanan umat Islam.
Konon, ketika Sunan Kalijaga memainkan gamelan, masyarakat berbondong-bondong datang karena penasaran. Mereka kemudian diajak memasuki lingkungan masjid, membersihkan diri, dan mengucapkan syahadat sebelum mendengarkan gamelan dari dekat.
Melalui cara itulah nilai-nilai Islam diperkenalkan secara damai dan mudah diterima masyarakat.
Hingga saat ini, jejak sejarah tersebut masih terasa dalam setiap penyelenggaraan Sekaten di Yogyakarta.
Tujuh Hari Gamelan Menggema di Masjid Gedhe
Setelah tiba di Pagongan Masjid Gedhe Kauman, kedua gamelan pusaka tidak langsung kembali ke keraton.
Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga akan ditabuh secara rutin selama tujuh hari berturut-turut oleh para abdi dalem KHP Kridha Mardawa.
Penabuhan berlangsung bergantian di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul mulai 20 hingga 25 Agustus 2026.
Setiap hari, suara gamelan akan terdengar pada waktu-waktu tertentu, kecuali Kamis malam hingga Jumat siang ketika tabuhan dihentikan sementara sesuai tradisi yang berlaku.
Selama masa Sekaten, kawasan Masjid Gedhe Kauman juga menjadi ruang pertemuan budaya dan masyarakat.
Pengunjung tidak hanya menikmati alunan gamelan pusaka, tetapi juga dapat menjumpai berbagai kuliner khas yang selalu hadir dalam tradisi Sekaten.
Beberapa di antaranya adalah sego gurih, endog abang, sate gajih, hingga roti kembang waru yang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Yogyakarta dari generasi ke generasi.
Di sudut lain, permainan tradisional dan kerajinan rakyat seperti kapal thot-thot, pecut Sekaten, gerabah, sempritan burung, serta celengan tanah liat turut meramaikan suasana.
Garebeg Mulud Tetap Digelar Sederhana
Rangkaian Sekaten tahun ini akan berlanjut dengan Kondur Gangsa pada 25 Agustus 2026.
Dalam prosesi tersebut, kedua gamelan pusaka akan dikembalikan ke Keraton Yogyakarta setelah pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe yang dihadiri Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Puncaknya berlangsung sehari kemudian melalui Garebeg Mulud.
Namun seperti pelaksanaan Garebeg Besar sebelumnya, Garebeg Mulud Be 1960 tetap digelar secara sederhana sesuai dhawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Bupati Nayaka Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, mengatakan konsep pelaksanaan tidak berubah dari kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya.
โPerintah dari Sultan terkait penyelenggaraan Garebek masih sama, kami menerima dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebek dimulai dari Garebek Besar kemarin sampai sekarang Mulud juga masih dengan konsep pembagian ubarampe pareden,โ katanya.
Artinya, masyarakat tidak akan menyaksikan gunungan keluar dari keraton maupun iring-iringan prajurit seperti yang pernah menjadi ciri khas Garebeg pada masa lalu.
Sedekah raja kepada kawula diwujudkan melalui pembagian ubarampe pareden berupa rengginang kepada para abdi dalem.
Tradisi yang Berubah, Makna yang Tetap Terjaga
Perubahan bentuk penyelenggaraan Garebeg sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Keraton Yogyakarta.
Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Keraton Yogyakarta, KRT Sindurejo, menjelaskan bahwa tradisi budaya selalu beradaptasi dengan zamannya.
Pada masa lalu, Garebeg pernah tampil sebagai upacara terbesar dengan kehadiran Sultan beserta regalia kerajaan. Namun dalam perjalanan sejarah, bentuknya mengalami berbagai penyesuaian, termasuk saat masa perjuangan kemerdekaan hingga pandemi Covid-19.
โIni menunjukkan rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,โ ujar KRT Sindurejo.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa kekuatan tradisi tidak selalu terletak pada kemegahan prosesi, melainkan pada nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menjaga Denyut Tradisi di Tengah Zaman
Ketika malam semakin larut dan gamelan pusaka perlahan bergerak meninggalkan Keraton menuju Kauman, yang berjalan bukan hanya seperangkat alat musik berusia ratusan tahun.
Yang ikut bergerak adalah sejarah, keyakinan, dan memori kolektif masyarakat Yogyakarta.
Miyos Gangsa dalam Sekaten bukan sekadar festival tahunan. Ia adalah pengingat tentang bagaimana budaya pernah menjadi jembatan dakwah, bagaimana tradisi mampu bertahan melintasi zaman, dan bagaimana Yogyakarta terus menjaga warisan leluhurnya tanpa kehilangan relevansi di masa kini.
Hingga hari ini, dentang Guntur Madu dan Nagawilaga masih menjadi suara yang ditunggu masyarakat. Suara yang bukan hanya mengabarkan datangnya Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menandai hidupnya sebuah tradisi yang terus dirawat dengan penuh hormat.





